PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL

PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL

MAKALAHGambar

 

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Perekonomian Indonesia

 

 

 

 

Oleh,

HILMI HUSADA /093402260

JURUSAN MANAJEMEN  FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SILIWANGI

TASIKMALAYA

 

2010

 

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul “PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL “Makalah ini disusun untuk memenuhi salah tugas mata kuliah  Perekonomian Indonesia.

Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pendapatan Nasional yang tak asing Di indonesia. Kata Ekonomi berasal dari bahasa latin yaitu ekosdan nomosyang berarti orang yang mengatur rumah tangga.ekonomi memiliki peranan penting terhadap kehidupan manusia Mengapa ekonomi sangat penting dan berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan ? pertanyaan inilah yang menjadi fokus makalah yang penulis susun.Oleh sebab itu, makalah ini akan dibahas dalam hal ihwal Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pendapatan Nasional .dengan uraian yang komprehensip ini,diharapkan pemahaman Tentang Ekonomi dan pendapatan Nasional.

Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, oleh sebab itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada Teman – teman seperjuangan yang ikut memberikan ide , dosen mata kuliah Perekonomian Indonesia yang telah memberikan dukungan dan dorongan, dan semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu persatu semoga allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda.

Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memilki banyak kekurangan, baik dalam hal ini maupun sistematika dan tehnik penulisannya.oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan mangfaat bagi penulis dan pembaca.Amin.

                                                                                                    Tasikmalaya , Pebuari 2010

                                                                                                                     

                                                                                                                        Penulis

 

 

BAB I

Pendahuluan

  1. A.    Latar Belakang

Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto, ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP perkapita $70 menjadi lebih dari $1.000 pada 1996. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5%-10%, rupiah stabil dan dapat diterka, dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang. Banyak dari anggaran pembangunan dibiayai melalui bantuan asing.

Pada pertengahan 1980-an pemerintah mulai menghilangkan hambatan kepada aktivitas ekonomi. Langkah ini ditujukan utamanya pada sektor eksternal dan finansial dan dirancang untuk meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan di bidang ekspor non-minyak. GDP nyata tahunan tumbuh rata-rata mendekati 7% dari 1987-1997, dan banyak analisis mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang.

Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari 1987-1997 menutupi beberapa kelemahan struktural dalam ekonomi Indonesia. Sistem legal sangat lemah, dan tidak ada cara efektif untuk menjalankan kontrak, mengumpulkan hutang, atau menuntut atas kebangkrutan. Aktivitas bank sangat sederhana, dengan peminjaman berdasarkan “collateral” menyebabkan perluasan dan pelanggaran peraturan, termasuk batas peminjaman. Hambatan non-tarif, penyewaan oleh perusahaan milik negara, subsidi domestik, hambatan ke perdagangan domestik, dan hambatan ekspor seluruhnya menciptakan gangguan ekonomi.

Krisis finansial Asia Tenggara yang melanda Indonesia pada akhir 1997 dengan cepat berubah menjadi sebuah krisis ekonomi dan politik. Respon pertama Indonesia terhadap masalah ini adalah menaikkan tingkat suku bunga domestik untuk mengendalikan naiknya inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah, dan memperketat kebijakan fiskalnya. Pada Oktober 1997, Indonesia dan International Monetary Fund(IMF) mencapai kesepakatan tentang program reformasi ekonomi yang diarahkan pada stabilitas ekonomi makro dan penghapusan beberapa kebijakan ekonomi yang dinilai merusak, antara lain Program Permobilan Nasional dan monopoli, yang melibatkan anggota keluarga Presiden Soeharto. Rupiah masih belum stabil dalam jangka waktu yang cukup lama, hingga pada akhirnya Presiden Suharto terpaksa mengundurkan diri pada Mei 1998. Di bulan Agustus 1998, Indonesia dan IMF menyetujui program pinjaman dana di bawah Presiden B.J Habibie. Presiden Gus Dur yang terpilih sebagai presiden pada Oktober 1999 kemudian memperpanjang program tersebut.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian pertumbuhan ekonomi?
    2. Apa saja teori-teori pertumbuhan ekonomi?
    3. Bagaimanakah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Nasional?
  1. C.    Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan Makalah ini sendiri adalah :

  1. Mengetahui pengertian pertumbuhan ekonomi.
  2. Mengetahui teori-teori pertumbuhan ekonomi.
  3. Mengetahui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Nasional.
  4. D.    Kegunaan Makalah
    1. Memberikan pengertian  pertumbuhan ekonomi.
    2. Memberikan pemahaman tentang teori-teori pertumbuhan ekonomi.
    3. Memberikan gambaran tentang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Nasional. 
  5. E.     Metode Penulisan

Penulisan karya tulis ini menggunakan metode literature yang diambil dari beberapa buku serta dengan metode lainnya.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian dan Pertumbuhan Ekonomi

Dalam kehidupan sehari -hari pasti anda sering mendengar  perkataan yang mengandung istilah ekonomi misalnya pembangunan ekonomi, kesulitan ekonomi, golongan ekonomi lemah, pelayanan ekonomi, dan banyak lagi. Istilah ekonomi mula- mula berasal dari perkataan Yunani Oikos dan Nomos , Oikos berarti rumah tangga dan Nomos Perubahan kata ekonomis menjadi ekonomi mengandung arti aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga berarti aturan ekonomi Rumah tangga dalam hal ini dapat meliputi rumah tangga perorangan  (keluarga), badan usaha atau perusahaan rumah tangga pemerintah dsb. Pertumbuhan ekonomi  yang pesat merupakan fenomena penting yang dialami dunia hanya semenjak dua abad belakangan ini. Dalam periode tersebut dunia telah mengalami perubahan yang sangat nyata apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sampai abad ke 18 kebanyakan masyarakat di berbagai negara masih hidup pada tahap subsitensi dan mata pencarian utamanya adalah dari melakukan kegiatan di sektor pertanian, perikanan, dan berburu.

Ditinjau dari sudut ekonomi, perkembangan ekonomi dunia yang berlaku semenjak lebih dua abad yang lalu menimbulkan dua efek penting yang sangat menggalakan, yaitu:

  1. Kemakmuran atau taraf  hidup masyarakat makin meningkat
  2. Ia dapat menciptakan kesempatan kerja yang baru kepada penduduk yang terus bertambah  jumlahnya

Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam definisi tersebut, yaitu: (1) proses, (2) output per kapita, dan (3) jangka panjang.

Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses, bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat.

Simon Kuznet mendefenisikan pertumbuhan ekonomi suatu negara sebagai “kemampuan negara itu untuk menyediakan barang-barang ekonomi yang terus meningkat bagi penduduknya, pertumbuhan kemampuan ini berdasarkan pada kemajuan teknologi dan kelembagaan serta penyesuaian ideologi yang dibutuhkannya” Dalam analisanya yang mendalam, Kuznet memisahkan enam karakteristik yang terjadi dalam proses pertumbuhan pada hampir semua negara dan dari pendapatnya tersebut di bawah ini terlihat bahwa salah satu faktor yang sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yaitu perdagangan (ekspor).

  1. Dua variabel ekonomi agregatif: tingginya tingkat pertumbuhan output  perkapita dan populasi dan tingginya tingkat kenaikan produktivitas faktor produksi secara keseluruhan atau terutama produktivitas tenaga kerja.
  2. Dua transformasi struktural : tingginya tingkat transformasi struktur ekonomi dan tingginya tingkat transformasi sosial dan ideologi.
  3. Dua faktor yang mempengaruhi meluasnya pertumbuhan ekonomi internasional : kecenderungan negara-negara maju secara ekonomi untuk menjangkau seluruh dunia untuk mendapatkan pasar (ekspor) dan bahan baku dan pertumbuhan ekonomi ini hanya dinikmati oleh sepertiga populasi dunia.

Hal ini sejalan dengan pendapat Krugman dan Obstfeilt yang menyatakan secara teoritis, bahwa perdagangan internasional terjadi kerena dua alasan utama, yaitu:

  1. Adanya keuntungan dalam melakukan perdagangan (gains from trade) bagi negara, dikarenakan adanya perbedaan diantara mereka mengenai faktor-faktor yang dimilikinya.
  2. Untuk mencapai skala ekonomi (economies of scale) dalam produksi. Maksudnya, jika setiap negara hanya menghasilkan sejumlah barang-barang tertentu mereka dapat menghasilkan barang-barang tersebut dengan skala yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan jika negara tersebut mencoba untuk memproduksi segala jenis barang. Kenyataannya bahwa pola-pola perdagangan dunia yang mengakibatkan tejadinya pertumbuhan ekonomi, mencerminkan perpaduan dari dua motif tersebut diatas.

Disini nampak aspek dinamis dari suatu perekonomian, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. Selain itu pertumbuhan memiliki sifat self-generating yaitu proses pertumbuhan itu sendiri melahirkan kekuatan atau momentum bagi timbulnya kelanjutan pertumbuhan tersebut dalam periode selanjutnya.

Pertumbuhan ekonomi dalam bahasa inggris diistilahkan dengan  economic growth mengandung pengertian proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang atau perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang terjadi Dari tahun ke tahun. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dapat dihitung dengan rumus:

Pertumbuhan ekonomi / tahun t =

Keterangan:
Tahun t = tahun yang dihitung pertumbuhannya

Dalam hal ini, GNP adalah pertumbuhan dana GNPt-1 adalah GNP sebelum berubah. Analisis mengenai pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu aspek penting dalam teori makro ekonomi. Analisis itu pada dasarnya memperhatikan tentang kegiatan ekonomi negara dalam jangka panjang. Dalam membicarakan mengenai pertumbuhan ekonomi dua hal penting perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi sesuatu Negara
  2. Teori-teori yang menerangkan faktor penting yang menentukan pertumbuhan.

Dalam kegiatan perekonomian yang sebenarnya pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan fisikal produksi barang dan jasa yang berlaku disuatu negara, seperti pertambahan dan jumlah produksi barang industri, perkembangan infrastruktur, pertambahan jumlah sekolah, pertambahan produksi sektor jasa dan pertambahan produksi barang modal. Oleh sebab itu untuk memberikan suatu gambaran kasar mengenai pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara, ukuran yang selalu digunakan adalah tingkat pertumbuhan pendapatan nasional riil yang dicapai.
Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi bertambah dan kemakmuran masyarakat  meningkat. Pertumbuhan ekonomi juga merupakan tingkat kenaikan PDB atau PNB riil pada suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi juga mempunyai pengertian lagi, yaitu:

  1. Suatu proses bukan satu gambaran ekonomi sesaat, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu.
  2. Berkaitan dengan kenaikan output per kapita, yaitu sisi output total (GDP) dan sisi jumlah penduduk.
  3. Prespektif waktu jangka panjang, yang diperkirakan 10, 20, 50 bahkan lebih dari itu.

Ada atau tidaknya pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara, dapat menggunakan tiga cara pendekatan, yaitu sebagai berikut:

  1. Tingkat penghidupan masyarakat

Artinya masyarakat sejahtera berarti terdapat peningkatan kemakmuran Masyarakat dikatakan makmur apabila semua kebutuhan materi dapat terpenuhi dengan sebaik –baiknya dan tingkat kemakmuran dapat diukur dari banyaknya barang dan jasa yang dihasilkan serta  banyak barang dan jasa yang digunakan untuk memehuhi kebutuhan hidup.sekarang, dibandingkan dengan tingkat konsumsi di masa lampau.

  1. Sumber – sumber produksi

Apakah dalam negara tersebut ditemukan sumber-sumber produksi baru, serta apakah sumber-sumber yang ada dapat dipertahankan dan dimanfaatkan secara efisien

  1. Tingkat pendapatan nasional

Apakah pendapatan nasional sekarang lebih meningkat dibandingkan dengan pendapatan nasional masa sebelumnya.

Pada zaman sekarang seringkali pembangunan disamakan dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi karena orang percaya, hasil-hasil pembangunan akan dengan sendirinya menetes ke bawah (trickle down) sebagaimana yang terjadi di negara-negara yang sekarang tergolong maju. Jadi, yang perlu diusahakan dalam pembangunan adalah bagaimana caranya untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut. Bahwa pada tahap awal pembangunan (Todaro, 1998) terdapat tingkat kesenjangan pembagian pendapatan yang menyolok seperti yang ditulis oleh Simon Kuznet dalam penelitian empirisnya mengenai negara-negara maju, yang dikenal dengan kurva U terbalik. Adalah suatu hal yang wajar, keadaan ini juga akan dilalui oleh negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia dalam proses pembangunannya.

Selama ini banyak negara sedang berkembang telah berhasil menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi masih banyak permasalahan pembangunan yang belum terpecahkan, seperti : tingkat pengganguran tetap tinggi, pembagian pendapatan tambah tidak merata, masih banyak terdapat kemiskinan absolut, tingkat pendidikan rata-rata masih rendah, pelayanan  kesehatan masih kurang, dan sekelompok kecil penduduk yang sangat kaya cenderung semakin kaya sedangkan sebagian besar penduduk tetap saja bergelut dengan kemiskinan, yang terjadi bukan trickle down tapi trickle up. Keadaan ini memprihatinkan, banyak ahli ekonomi pembangunan  yang mulai mempertanyakan arti dari pembangunan.

  1. B.     Teori-Teori Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu bidang penyelidikan yang sudah lama dibahas oleh ahli-ahli ekonomi. Dalam zaman ahli-ahli ekonomi klasik lebih banyak lagi pendapat telah dikemukakan. BukuAdam Smith yang terkenal, yaitu An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth Nations atau dengan ringkas, The Wealth of Nations, pada hakikatnya adalah suatu analisis mengenai sebab-sebab dari berlakunya pertumbuhan ekonomi dan faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan itu.

  1. Teori Pertumbuhan Klasik

Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik, ada 4 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu: jumlah penduduk, jumlah stok barang-barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta tingkat teknologi yang digunakan. Dalam teori pertumbuhan mereka, dimisalkan luas tanah dan kekayaan alam adalah tetap jumlahnya dan tingkat teknologi tidak mengalami perubahan.

Berdasarkan kepada teori pertumbuhan klasik yang baru diterangkan, dikemukakan suatu teori yang menjelaskan perkaitan di antara pendapatan per kapita dan jumlah penduduk. Teori tersebut dinamakan teori penduduk optimum. Teori pertumbuhan klasik dapat dilihat bahwa apabila terdapat kekurangan penduduk, produksi marjinal adalah lebih tinggi daripada pendapatan per kapita. Akan tetapi apabila penduduk semakin banyak, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi, yaitu produksi marjinal akan mulai mengalami penurunan. Oleh karenanya pendapatan nasional dan pendapatan per kapita menjadi semakin lambat pertumbuhannya.

  1. Teori Schumpeter

Teori Schumpeter menekankan tentang pentingnya peranan pengusaha di dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Dalam teori itu ditunjukan bahwa para pengusaha merupakan golongan yang akan terus-menerus membuat pembaharuan atau inovasi dalam kegiatan ekonomi. Inovasi tersebut merupakan: memperkenalkan barang-barang baru, mempertinggi efisien cara memproduksi dalam menghasilkan suatu barang, memperluas pasar sesuatu barang ke pasaran-pasaran yang baru, mengembangkan sumber bahan mentah yang baru dan mengadakan perubahan-perubahan dalam organisasi dengan tujuan mempertinggi keefisienan kegiatan perusahaan.

Menurut Schumpeter, investasi dapat dibedakan kepada dua golongan yaitu penanaman modal otonomi dan penanaman modal terpengaruh. Penanaman modal otonomi adalah penanaman modal yang ditimbulkan pada kegiatan ekonomi yang timbul sebagai akibat kegiatan inovasi. Menurut  Schumpeter  makin tinggi tingkat kemajuan sesuatu ekonomi semakin terbatas kemungkinan untuk mengadakan inovasi. Maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi bertambah lambat jalannya. Pada akhirnya akan tercapai tingkat “keadaan tidak berkembang” atau “stationary atau state”. Akan tetapi, berbeda dengan pandangan klasik, dalam pandangan Schumpeter keadaan tidak berkembang itu dicapai pada tingkat pertumbuhan yang tinggi.

  1. Teori Harrod-Domar

Dalam menganalisis mengenai masalah pertumbuhan ekonomi, teori Harrod-Domar bertujuan untuk menerangkan syarat yang harus dipenuhi supaya suatu perekonomian dapat mencapai pertumbuhan yang teguh atau steady growth dalam jangka panjang. Analisis Harrod-Domar menggunakan permisalan-permisalan berikut:

  1. Barang modal telah mencapai kapasitas penuh
  2. Tabungan adalah proporsional dengan pendapatan nasional
  3. Rasio modal produksi (capital output ratio) tetap nilainya
  4. Perekonomian terdiri dari dua sector

Dalam analisisnya Harrod-Domar menunjukan bahwa, walaupun pada suatu tahun tertentu (misalnya tahun 2002) barang-barang modal sudah mencapai kapasitas penuh, pengeluaran agregat dalam tahun 2002 yaitu AE = C+I, akan menyebabkan kapasitas barang modal menjadi semakin tinggi pada tahun berikutnya (tahun 2003).

  1. Teori Pertumbuhan Neo-klasik

Teori pertumbuhan Neo-klasik melihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari segi penawaran. Menurut teori ini, yang dikembangkan oleh Abramovits dan Solow pertumbuhan ekonomi tergantung kepada perkembangan faktor-faktor produksi. Dalam persamaan, pandangan ini dapat dinyatakan dengan persamaan:

AY = f (AK,AL,AT)

Dimana :

AY adalah tingkat pertumbuhan ekonomi

AK adalah tingkat pertumbuhan modal

AL adalah tingkat pertumbuhan penduduk

At adalah tingkat pertumbuhan teknologi

Analisis solow selanjutnya membentuk formula matematik untuk persamaan itu dan seterusnya membuat pembuktian secara kajian empiris untuk menunjukkan kesimpulan berikut : faktor terpenting yang mewujudkan pertumbuhan ekonomi bukanlah pertambahan modal dan pertambahan tenaga kerja. Faktor yang paling penting adalah kemajuan teknologi dan pertambahan kemahiran dan kepakaran tenaga kerja.

  1. C.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

Maksudnya adalah menjelaskan faktor-faktor yang menentukan kenaikan output per kapita dalam jangka panjang, dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan. Hal ini telah dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi yang berasal dari berbagai aliran, yaitu:
1. Aliran Historis

Aliran historis berkembang di Jerman dan kemunculannya merupakan reaksi terhadap pandangan kaum klasik yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dipercepat dengan revolusi industri, sedangkan aliran historis menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dilakukan secara bertahap. Pelopor aliran historis antara lain, Frederich List, Karl Bucher, Bruno Hildebrand, Wegner Sombart, dan W.W. Rostow.

  1. a.      Frederich List

Frederich List menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat dapat dilihat dari pertumbuhan mata pencahariannya. Tahapan pertumbuhan ekonomi itu meliputi:

1. masa berburu dan mengembara

2. masa berternak dan bertani

3. masa bertani dan kerajinan

4. masa industri dan perdagangan

  1. b.      Karl Bucher

Karl Bucher melihat pertumbuhan ekonomi masyarakat dari jarak produsen dan konsumennya. Menurutnya tahap pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut:

1. tahap rumah tangga tertutup

2. tahap rumah tangga kota

3. tahap rumah tangga bangsa

4. tahap rumah tangga dunia

  1. c.       Bruno Hildebrand

Bruno Hildebrand  melihat pertumbuhan ekonomi masyarakat dari perkembangan alat tukar-menukarnya, yaitu:

1. masa tukar-menukar secara barter

2. masa tukar-menukar dengan uang

3. masa tukar-menukar dengan kredit

  1. d.      Wegner Sombart

Wegner Sombart melihat pertumbuhan ekonomi masyarakat dari tujuan berproduksi yakni sebagai berikut:

  1. 1.  Masyarakat prakapitalis, yaitu masyarakat yang berproduksi untuk memenuhi kebutuhan primer

2. Masyarakat kapitalis, yaitu masyarakat yang berproduksi untuk tujuan memperoleh.

2. Aliran Klasik

Pelopor aliran klasik, antara lain, adalah  Adam Smith, David Ricardo, dan Arthur Lewis.

  1. a.      Adam Smith

Adam Smith berpendapat proses pertumbuhan ekonomi dapat dilihat melalui pertumbuhan output dan pertumbuhan output tidak dapat lepas dari pertumbuhan penduduk. Kedua pertumbuhan ini ditentukan oleh tiga faktor yaitu:

1. Sumber alam yang tersedia

2. Jumlah penduduk

3. Persediaan barang

  1. b.      David Ricardo

Selain dikemukakan Adam Smith, David Ricardo menambahkan bahwa perkembangan perekonomian akan ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:

1. Tanah terbatas jumlahnya

2. Tenaga kerja atau penduduk yang meningkat / menurun apakah sesuai dengan tingkat upah di atas atau di bawah tingkat upah minimal.
3. Akumulasi capital terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik mereka di atas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi.

4. Dari waktu ke waktu terjadi kemajuan teknologi

5. Sektor pertanian dominan Arthur Lewis

Terkenal dengan nama model pertumbuhan dengan suplai tenaga kerja yang tidak terbatas. Pokok permasalahan yang dikaji adalah bagaimana proses pertumbuhan terjadi dalam perekonomian dengan dua sektor, yaitu:

1. Sektor tradisional dengan produktivitas rendah dan sumber tenaga kerja yang melimpah.
2. Sektor modern dengan produktivitas tinggi dan sebagai sumber akumulasi kapital.

3. Aliran Modern

Aliran ini dipelopori oleh beberapa ahli ekonomi, diantaranya J.M. Keynes dan J. Schumpeter.

  1. a.      J.M. Keynes

J.M. Keynes menyatakan bahwa peningkatan GNP tidak dilihat dari RTP, tetapi dari RTK, yaitu dengan cara meningkatkan permintaan efektif.

  1. b.      Joseph Schumpeter

Joseph Schumpeter dengan teori dinamisnya menyatakan bahwa untuk meningkatkan GNP, pengusaha harus dinamis. Dinamis artinya mampu menciptakan New Combination melalui inovasi dalam proses produksi sehingga akan memenangkan dalam persaingan di pasar.

  1. D.    Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pembangunan Nasional
    1. Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sabgat bergantung pada pemangfaatan sumber daya alam yang tersedia secara besar-besaran perlu pula dikonsentrasikan pada upaya peningkatan produktifitas dan efisiensi Selain itu, peran APBN yang selama ini cenderung masih menjadi andalan dalam membiayai pembangunan nasional harus lebih diimbangi dengan sumber – sumber swasta dan masyarakat luas. Perekonomian dan pelaku-pelaku ekonomi dalam sebuah demokrasi yang terkonsolidasi tidak dapat dikelola berdasarkan ekonomi komando. namun sebaliknya tidak dapat diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar yang murni Ekonomi komando seringkali mengakibatkan timbulnya rasa ketidakadilan dan ketidak-efisienan dalam perekonomian . Sebaliknya perekonomian yang sepenuhnya mengacu pada mekanisme pasar yang murni dapat menjadi sebab timbulnya ketidakadilan yang meluas. Yang pada gilirannya menjadi kegagalan pasar . Oleh karena itu, serta menjamin berjalannya perekonomian seperti yang diharapkan. untuk mendukung terciptanya rasa keadilan dan efisiensi diperlukan demokrasi yang terkonsolidasi. Dengan demikian, perlu dilakukan masyarakat secara berkelanjutan dengan dukungan kuat dari parlemen dan pemerintah. Dengan menerapkan strategi bersama yang sekaligus pro pada kemandirian ekonomi nasional  pemberdayaan kekuatan-kekuatan ekonomi.  Diantara para pengeritik pola pembangunan ekonomi yang telah ditempuh oleh kebanyakan negara berkembang, termasuk Indonesia, terdapat banyak orang yang beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat selalu dibarengi kenaikan dalam ketimpangan pembagian pendapatan atau ketimpangan relatif.

Dengan perkataan lain, para pengeritik ini, termasuk banyak ekonom, beranggapan bahwa antara pertumbuhan ekonomi yang pesat dan pembagian pendapatan terdapat suatu Trade-Off, yang membawa implikasi bahwa pemerataan dalam pembagian pendapatan hanya dapat dicapai jika laju pertumbuhan ekonomi diturunkan. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi selalu akan disertai kemerosotan dalam pembagian pendapatan atau kenaikan dalam ketimpangan relatif.

Disamping ketimpangan dalam pembagian pendapatan (ketimpangan relatif). perlu juga diperhatikan masalah lain yang tidak kurang pentingnya, yaitu sampai seberapa jauh pertumbuhan ekonomi dapat berhasil dalam menghilangkan, sedikit-dikitnya mengurangi kemiskinan absolut.

Penelitian yang dilakukan oleh Adelman dan Morris (1973) mengungkapkan bahwa negara-negara berkembang bukan saja menghadapi kemerosotan dalam ketimpangan relatif, tetapi juga masalah kenaikan dalam kemiskinan absolut. Dalam hubungan ini kemiskinan absolut diartikan sebagai suatu keadaan dimana tingkat pendapatan absolut dari suatu orang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti pangan, sandang, pemukiman, kesehatan dan pendidikan. Besarnya kemiskinan absolut  tercermin dari jumlah penduduk yang tingkat pendapatan atau tingkat konsumsinya berada di bawah “tingkat minimum” yang telah ditetapkan di atas.

Negara-negara berkembang ini dapat dibagi dalam tiga sub-kelompok, yaitu:

  1. Negara-negara berkembang yang berpendapatan rendah dengan Gnp per kapita di bawah US$ 350 (hargaUS$ tahun 1970) pada tahun 1975
  2. Negara-negara berkembang yang berpendapatan menengah dengan GNP per kapita anatara US$350-US$750 (harga US$ tahun 1970).
  3. Negara-negara berkembang yang berpendapatan tinggi yang pada tahun 1975 sudah mempunyai tingkat GNP per Kapita di atas US$750 (harga US$ tahun 1970).
    Jika negara-negara berkembang dibedakan lebih lanjut menurut ketiga sub-kelompok ini, ternyata bahwa secara relative ketiga sub-kelompok ini memperlihatkan penurunan dan persentase golongan penduduk yang miskin selama kurun waktu 1960-1975, yaitu untuk sub-kelompok negara-negara berkembang yang berpendapatan rendah dari 61,7 persen sampai 50,7 persen; untuk sub-kelompok negara yang berpendapatan menengah dari 49,2 persen sampai 31 persen; dan sub-kelompok negara yang berpendapatan tinggi dari 24,9 persen sampai 12,6 persen.

Dengan demikian angka-angka di atas memperlihatkan bahwa masalah kemiskinan absolut justru paling parah di negara-negara berkembang yang paling miskin. Hal ini memang tidak begitu mengherankan, karena besarnya masalah kemiskinan absolut di sesuatu negara tergantung pada dua faktor, yaitu tingkat pendapatan rata-rata (perkapita) dan tingkat ketimpangan dalam pembagian pendapatan nasional tersebut.

Dengan demikian masalah kemiskinan absolut di negara-negara berkembang hanya dapat ditanggulangi secara tuntas melelui suatu kombinasi kebijaksanaan, yang meliputi peningkatan laju pertumbuhan ekonomi, usaha pemerataan yang lebih besar dalam pembagian pendapatan, dan penurunan dalam laju pertumbuhan penduduk.

  1. Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan

Tiga Faktor Utama Pertumbuhan Ekonomi:

  1. Akumulasi modal , yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia.
  2. Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja.
  3. Kemajuan teknologi .

1. Akumulasi modal

Akumulasi modal ( capital accumulation) terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari. Pengadaan pabrik baru, mesin-mesin, peralatan dan bahan baku dalam rangka meningkatkan stok modal ( capital stock ) secara fisik memungkinkan akan terjadinya peningkatan output di masa-masa mendatang. Investasi produktif yang bersifat langsung tersebut harus dilengkapi dengan berbagai investasi penunjang yang disebut investasi &quot infrastruktur & quot ; ekonomi dan sosial.

Contoh: pembangunan jalan-jalan raya, penyediaan listrik, persediaan air bersih dan perbaikan sanitasi, pembangunan fasilitas komunikasi, peningkatan kualitas SDM, dsb, yang kesemuanya itu mutlak dibutuhkan dalam rangka menunjang dan mengintegrasikan segenap aktivitas ekonomi produktif.  Sebagai contoh, investasi yang dilakukan oleh seorang petani sayuran berupa pembelian sebuah traktor baru pasti dapat meningkatkan produksi sayurannya. Tetapi tanpa fasilitas transportasi (jalan dan/atau kendaraan) yang memadai guna mengangkut tambahan produksi tersebut ke pasaran, maka investasi sang petani tersebut tidak akan banyak menambah produksi pangan nasional.

2. Pertumbuhan Penduduk dan Angkatan Kerja.

Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi.  Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti ukuran pasar domestiknya lebih besar.  Positif atau negatifnya pertambahan penduduk bagi upaya pembangunan ekonomi sepenuhnya tergantung pada kemampuan sistem perekonomian yang bersangkutan untuk menyerap dan secara produktif memanfaatkan tambahan tenaga kerja tersebut.  Kemampuan itu dipengaruhi oleh tingkat dan jenis akumulasi modal dan tersedianya input atau faktor-faktor penunjang, seperti kecakapan manajerial dan administrasi.

Kurva Kemungkinan Produksi ( production-possibility curve, PPC )

  1. Kurva yang menggambarkan peningkatan potensi total output dari suatu perekonomian pada tingkat penguasaan teknologi dan jumlah SDM dan modal fisik tertentu
  2. PPC memperlihatkan jumlah output maksimum yang berupa kombinasi dua jenis komoditi, misalnya: beras (padat karya) dan radio (padat modal atau teknologi),
  3. Asumsi: segenap sumber daya yang tersedia dalam perekonomian yang bersangkutan benar­benar digunakan secara penuh dan efisien.

               Dampak kenaikan SDM dan SD Fisik terhadap PPF

  1. Adanya kenaikan kuantitas SDM dan fisik hingga dua kali lipat berkat adanya investasi, baik itu investasi yang meningkatkan kualitas sumber daya yang sudah ada maupun investasi yang dimaksud adalah tanah, modal, dan tenaga kerja.
  2. peningkatan kuantitas tersebut akan menggeser PPC ke luar secara sejajar, dari P-P ke P’-P’
  3. Hal itu menunjukkan bahwa perekonomian atau negara yang bersangkutan sekarang dapat memproduksi lebih banyak radio dan beras.

               Dampak pertambahan modal dan lahan terhadap PPF

  1. Asumsi: hanya salah satu faktor produksi (modal atau tanah saja) yang bisa berubah dalam suatu waktu, baik itu kualitas maupun kuantitasnya.
  2. A pabila terjadi penambahan modal PPC pasti akan lebih condong ke produksi radio
  3. Apabila terjadi penambahan lahan (atau peningkatan kualitas penggarapannya), maka kurva tersebut akan lebih condong pada padi

3. Kemajuan Teknologi

  1. kemajuan teknologi yang bersifat netral (neutral technological progress),

Terjadi apabila teknologi tersebut memungkinkan kita mencapai tingkat produksi yang lebih tinggi dengan menggunakan jumlah dan kombinasi faktor input yang sama. Contoh : pengelompokan tenaga kerja (semacam spesialisasi) yang dapat mendorong peningkatan output dan kenaikan konsumsi masyarakat  Ditinjau dari sudut analisis kemungkinan produksi, perubahan teknologi yang netral, yang dapat melipat gandakan output, secara konseptual, sama saja artinya teknologi yang mampu melipat gandakan semua input produktif.

  1. b.      kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (labor saving technological progress)

P enggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memperoleh output yang lebih tinggi dari jumlah input tenaga kerja yang sama. Penggunaan komputer elektronik, mesin tekstil otomatis, bor listrik berkecepatan tinggi, traktor dan mesin pembajak tanah, dan banyak lagi jenis mesin serta peralatan modern lainnya, Sebagian besar kemajuan teknologi pada abad kedua puluh adalah teknologi yang hemat tenaga kerja. Jumlah pekerja yang dibutuhkan dalam berbagai kegiatan produksi mulai dari pengemasan kacang sampai dengan pembuatan sepeda dan jembatan semakin sedikit.

  1. kemajuan teknologi yang hemat modal (capital-saving technological progress).

Di negara-negara Dunia Ketiga yang berlimpah tenaga kerja tetapi langka modal, kemajuan teknologi hemat modal merupakan sesuatu yang paling diperlukan.  Kemajuan teknologi ini akan menghasilkan metode produksi padat karya yang lebih efisien (yakni, yang memerlukan biaya lebih rendah), misalnya mesin pemotong rumput berputar atau mesin pengayak dengan tenaga tangan, pompa penghembus dengan tenaga kaki dan penyemprot mekanis di atas punggung untuk pertanian skala kecil. Pengembangan teknik produksi di negara-negara berkembang yang murah, efisien dan padat karya (hemat modal) -atau teknologi tepat guna- merupakan salah satu unsur terpenting dalam strategi pembangunan jangka panjang yang berorientasi pada perluasan penyediaan lapangan kerja.

  1. d.      Kemajuan teknologi yang meningkatkan pekerja ( labor-augmenting technological progress )

T erjadi apabila penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan mutu atau keterampilan angkatan kerja secara umum. Misalnya, dengan menggunakan LCD , televisi, dan media komunikasi elektronik lainnya di dalam kelas, proses belajar bisa lebih lancar sehingga tingkat penyerapan bahan pelajaran juga menjadi lebih baik.

  1. e.       kemajuan teknologi yang meningkatkan modal ( capital-augmenting technological progress )

J ika penggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memanfaatkan barang modal yang ada secara lebih produktif.  Misalnya, penggantian bajak kayu dengan bajak baja dalam produksi pertanian. Menurut Prof. Simon Kuznets Definisi Pertumbuhan ekonomi ( economic growth ) Suatu negara “ Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian  teknologi, institusional (kelembagaan) , dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada ".

Ciri proses pertumbuhan ekonomi Profesor Kuznets

  1. Tingkat pertumbuhan output per kapita dan pertumbuhan penduduk yang tinggi.
  2. Tingkat kenaikan total produktivitas faktor yang tinggi.
  3. Tingkat transformasi struktural ekonomi yang tinggi.
  4. Tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi.
  5. Adanya kecenderungan negara-negara yang mulai atau yang sudah maju perekonomiannya untuk berusaha merambah bagian-bagian dunia lainnya sebagai daerah pemasaran dan sumber bahan baku yang baru.
  6. Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai sekitar sepertiga bagian penduduk dunia.

Delapan perbedaan yang mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan syarat-syarat terlaksananya pembangunan ekonomi modern

  1. Perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas modal manusia.
  2. Pendapatan per kapita dan tingkat GNP di saat mulai membangun, bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
  3. Perbedaan iklim.
  4. Perbedaan jumlah penduduk, distribusi, serta laju pertumbuhannya.
  5. Peranan sejarah migrasi internasional.
  6. Perbedaan dalam memperoleh keuntungan dari perdagangan internasional.
  7. Kemampuan melakukan penelitian dan pengembangan dalam bidang ilmiah dan teknologi dasar.
  8. Stabilitas dan fleksibilitas lembaga-lembaga politik.

1. Kekayaan Sumber Daya Alam dan Manusia

Negara-negara Dunia Ketiga dewasa ini kurang memiliki kekayaan alam apabila dibandingkan dengan negara-negara maju pada saat pertama kali memulai pembangunan ekonominya.  Dahulu, ketika mereka mulai menggalang kekuatan ekonomi, kekayaan alam mereka masih utuh; sedangkan kekayaan negara-negara berkembang sudah dirampok atau bahkan habis diperas oleh kolonialisme.  

Di Amerika Latin dan Afrika, walaupun memiliki sumber daya alam agak banyak, tidak memiliki modal untuk mengelola dan memanfaatkannya.  Modal tersebut tidak akan mudah diperoleh tanpa mengorbankan sejumlah besar otonomi dan kekuasaan nasional mereka kepada perusahaan-perusahaan multinasional yang secara teknis dan finansial memang lebih mampu mengelola sumber-sumber daya itu secara efisien.

Kemampuan suatu negara untuk mengelola sumber daya alam antara lain tergantung pada kecakapan manajerial dan kapabilitas teknis penduduknya, serta akses mereka ke pasar serta akses untuk memperoleh informasi dengan biaya minimal.  Dewasa ini, mayoritas penduduk negara-negara Dunia Ketiga kurang terdidik, kurang pengalaman, dan kurang cakap apabila dibandingkan dengan penduduk Negara ­negara yang sekarang maju pada awal pertumbuhan ekonominya. Akses mereka ke pasar dan sumber informasi pun relatif sangat terbatas.

Menurut ekonom Paul Romer, dewasa ini negara-negara berkembang "miskin karena penduduknya tidak memiliki akses ke gagasan-gagasan yang dahulu dimanfaatkan oleh negara-negara yang sekarang maju untuk menciptakan nilai ekonomis & quot.  Bagi Romer, kesenjangan teknologi antara negara-negara miskin dan negara-negara kaya dapat dipilah menjadi dua, yakni kesenjangan objek ( object gap) yang bersifat fisik (pabrik, jalan raya, dan mesin modern), dan kesenjangan gagasan ( idea gap ) yang antara lain berwujud ketimpangan informasi, serta ketimpangan pengetahuan tentang pemasaran, distribusi, upaya kontrol inventori, pemrosesan transaksi, dan pembangkitan motivasi pekerja.

Kesenjangan gagasan ini oleh Thomas Homer-Dixon disebut kesenjangan daya kreasi ( ingenuity gap ) , yakni, ketimpangan dalam menciptakan gagasan-gagasan inovatif untuk mengatasi berbagai persoalan sosial dan teknis yang bersifat praktis, yang menjadi sumber perbedaan pengalaman pertumbuhan antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang.  Kesenjangan sumber daya manusia seperti itu tidak ditemui oleh negara-negara yang sekarang tergolong maju pada awal industrialisasinya.

 2. Tingkat Relatif GNP dan Pendapatan Per Kapita

L ebih dari 70% penduduk negara-negara Dunia Ketiga harus berusaha keras guna mempertahankan hidupnya dengan pendapatan yang sangat minimum.  Pada saat memulai era pertumbuhan modern, negara-negara yang sekarang makmur, dalam berbagai aspek ekonomi sudah jauh lebih maju daripada bagian­-bagian dunia lainnya.  Mereka dapat mengambil manfaat dari posisi keuangannya yang kuat untuk memacu kesejahteraannya sendiri sehingga kian memperlebar kesenjangan pendapatan antara mereka dengan penduduk negara-negara berkembang.

Di saat mereka mengawali proses pertumbuhan ekonomi modernnya, mereka sudah mempunyai modal dan posisi yang cukup kokoh.  Sebaliknya, negara-negara berkembang dewasa ini memulai proses pertumbuhan dengan tingkat pendapatan per kapita yang paling rendah menurut skala internasional.

3. Perbedaan Iklim

Masih memerlukan analisis lebih mendalam untuk memastikan benar atau tidaknya perbedaan iklim ini termasuk ke dalam faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha-usaha pembangunan. Hampir seluruh negara-negara Dunia Ketiga terletak di daerah yang beriklim tropis atau subtropis.

Sejarah membuktikan bahwa hampir setiap negara yang berhasil mengembangkan ekonominya secara modern terletak di daerah yang beriklim dingin.  Salah satu faktor iklim yang secara langsung mempengaruhi produksi pada umumnya adalah suhu udara  yang  panas dan lembab di kebanyakan negara miskin.  Suhu yang panas dan lembab itu tidak hanya menyebabkan perasaan yang kurang enak pada para pekerja, tetapi juga menggerogoti atau menekan kesehatan, mengurangi keinginan bekerja keras sehingga pada akhirnya menurunkan tingkat produktivitas dan efisiensi.

 4. Jumlah Penduduk, Penyebaran, dan Pertumbuhannya

Pada saat ini jumlah penduduk negara-negara Dunia Ketiga, kepadatan dan perkembangannya sangat berbeda dengan yang ada di negara-negara maju, baik sekarang maupun di masa lampau ketika mereka mengawasi proses pembangunannya. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat jelas merupakan kendala.

Revolusi industri dan tingkat pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang tinggi mustahil akan dapat dicapai oleh negara-negara yang sekarang maju apabila mereka juga mengalami laju pertumbuhan penduduk yang sedemikian cepat dan nyaris tidak terkendali seperti yang terjadi dewasa ini di negara-negara miskin.

5. Peranan Sejarah Migrasi Internasional

Jaman dahulu negara-negara yang sekarang maju merasa bebas berimigrasi ke mana saja belahan bumi ini Sekarang mereka sangat membatasi datangnya para imigran ke negara mereka . Terbuka bagi mereka yang berpendidikan tinggi, sehingga menimbulkan brain drain

6. Rangsangan Pertumbuhan dari Maraknya Perdagangan Internasional

Dasar pertukaran atau nilai tukar perdagangan ( terms of trade) negara-negara berkembang selama ini terus menunjukkan penurunan.  Apabila negara-negara berkembang mampu memproduksi barang-barang tertentu dengan biaya yang lebih rendah daripada negara-negara maju (misalnya saja, tekstil, pakaian, sepatu, dan beberapa produk manufaktur ringan) maka negara-negara maju segera mencoba menghambat masuknya barang-barang tersebut ke negaranya dengan berbagai macam alasan dan cara, yakni mulai dari pengenaan tarif impor atau bea masuk yang kelewat tinggi, pengenaan aneka rupa hambatan perdagangan nontarif (nontariff barriers) seperti kuota impor, sampai dengan penerapan persyaratan kesehatan dan ijin-ijin khusus.

7. Kemampuan Melakukan Penelitian serta Pengembangan IPTEK Dasar

Dalam bidang penelitian serta pengembangan IPTEK , negara-negara Dunia Ketiga sampai sejauh ini masih berada dalam posisi yang sama sekali tidak menguntungkan . Hanya negara-negara makmur yang memiliki surplus kekayaan sajalah yang sanggup melakukannya, mengingat begitu besarnya biaya yang dibutuhkan.

Negara-negara kaya sangat tertarik untuk mengembangkan produk-produk yang serba canggih, pasar yang seluas-luasnya, metode produksi dengan teknologi tinggi yang menggunakan banyak input modal dan manajemen serta pengetahuan yang tinggi, dalam usahanya untuk menghemat tenaga kerja dan bahan-bahan baku yang langka. Sebaliknya, negara­negara miskin lebih berkepentingan dengan produk-produk relatif sederhana, menghemat modal, padat karya dan bisa diproduksi untuk pasar yang terbatas.

8. Stabilitas serta Fleksibilitas Lembaga-lembaga Politik dan Sosial

Sebelum revolusi industri negara-negara maju merupakan negara yang benar-benar merdeka, sehingga mereka sepenuhnya mampu menyusun kebijakan nasional mereka sendiri berdasarkan konsensus umum menuju ke arah quot modernisasi & quot.

Kebanyakan negara-negara Dunia Ketiga dewasa ini merupakan negara atau bangsa yang baru saja memperoleh kebebasan berpolitik, mereka belum merupakan bangsa yang kokoh, utuh atau terkonsolidasi, dan tentu saja belum memiliki kemampuan yang memadai untuk menyusun strategi pembangunan nasionalnya sendiri. Konsep modernisasi pada hakekatnya merupakan konsep & quot imporquot yang masih asing bagi masyarakat negara-negara Dunia Ketiga.

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

  1. A.    Kesimpulan

Dari hasil kuesioner dan pembahasan kami, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari 1987-1997 menutupi beberapa kelemahan struktural dalam ekonomi Indonesia. Sistem legal sangat lemah, dan tidak ada cara efektif untuk menjalankan kontrak, mengumpulkan hutang, atau menuntut atas kebangkrutan. Aktivitas bank sangat sederhana, dengan peminjaman berdasarkan “collateral” menyebabkan perluasan dan pelanggaran peraturan, termasuk batas peminjaman. Hambatan non-tarif, penyewaan oleh perusahaan milik negara, subsidi domestik, hambatan ke perdagangan domestik, dan hambatan ekspor seluruhnya menciptakan gangguan ekonomi. Pada zaman sekarang seringkali pembangunan disamakan dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi karena orang percaya, hasil-hasil pembangunan akan dengan sendirinya menetes ke bawah (trickle down) sebagaimana yang terjadi di negara-negara yang sekarang tergolong maju . Jadi, yang perlu diusahakan dalam pembangunan adalah bagaimana caranya untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut. Namun kenyaataan selama ini banyak negara sedang berkembang telah berhasil menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi masih banyak permasalahan pembangunan yang belum terpecahkan, seperti: tingkat pengganguran tetap tinggi, pembagian pendapatan tambah tidak merata, masih banyak terdapat kemiskinan absolut, tingkat pendidikan rata-rata masih rendah, pelayanan  kesehatan masih kurang, dan sekelompok kecil penduduk yang sangat kaya cenderung semakin kaya sedangkan sebagian besar penduduk tetap saja bergelut dengan kemiskinan, yang terjadi bukan  trickle down tapi trickle up. Keadaan ini memprihatinkan, banyak ahli ekonomi pembangunan  yang mulai mempertanyakan arti dari pembangunan. Solusinya Suatu Negara Harus  mulai menggalang kekuatan ekonomi, mengelola sumber daya alam antara lain tergantung pada kecakapan manajerial dan kapabilitas teknis penduduknya, serta akses mereka ke pasar serta akses untuk memperoleh informasi dengan biaya minimal. Mendidik , SDM dan mengarahkan penduduk . Negara tersebut menuju pada awal pertumbuhan ekonominya. Dengan memberikan Akses informasi pasar .dengan demikian seandainya upaya pemerintah terealisasi maka otomatis pendapatan suatu Negara tersebut khususnya Indonesia bisa lebih eksistensi memberikan kontribusi pada devisa Negara. dan laju pertumbuhan ekonomi dapat maju dan terjadi keseimbangan antara rakyat dan pemerintahan serta menciptakan cita cita Negara maju dan tercipta makmur, adil, dan sejahtera.

  1. B.     Saran

Ada beberapa saran yang hendak penulis sampaikan bagi para kawan – kawan selaku Mahasiswa  sebagai generasi penerus / Agen social of Change :

Sebagai mahasiswa harus mengetahui sejarah awalnya pertumbuhan dan pekembangan ekonomi terutama yang ada di indonesia, di tuntut untuk mempunyai Kemampuan Melakukan Penelitian serta Pengembangan IPTEK Dasar.karena di Indonesia masih banyak permasalahan pembangunan yang belum terpecahkan, seperti: tingkat pengganguran tetap tinggi, pembagian pendapatan tambah tidak merata, dan masih banyak terdapat kemiskinan absolut, tingkat pendidikan rata-rata masih rendah, pelayanan  kesehatan masih kurang. Penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun dan penulis mengharapkan agar pembaca tidaklah puas sehingga dapat mengawali wawasan dengan membaca buku lain.

DAFTAR PUSTAKA 
 

David R. Henderson,ed (2007). The Concise Encyclopedia of Economics Liberty Fund,

Kotler, Philip, (2000). Manajemen Pemasaran, Analisis Perencanaan, Pengenda-lian, Prentice Hall, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Salemba 4.

Dadang holds a MA degree Covey, (2009). Data and Information at as Deputy Spatial Planning and Land Use Management at Indonesian National Development Planning Agency (Bappenas).

Pemasaran, Konsep dan Strategi, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Gramedia.

Gilarso, T.,(2006) ,Dunia Ekonomi Kita, Yogyakarta: Kanisius.

karya : Hilmi Husada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s